Memetik Keberlanjutan dari Kebun Kopi: Kisah Kelas Inspiratif Indonesian Women's Forum 2023

Indonesian Women's Forum 2023, IWF 2023 30 December 2023

Sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan dan peluang unik dalam industri kopi. Melalui tema “Cerita dari Kebun Kopi”, Kelas Inspirasi Indonesian Women’s Forum 2023 menghadirkan pembicara Ade Aryani, Executive Director SCOPI (Sustainable Coffee Platform Indonesia), serta Donna Elvina, anggota SCOPI sekaligus Head of Indonesian Coffee Academy, tanggal 14 Desember lalu. Kedua pembicara tersebut memberikan wawasan yang mendalam tentang industri kopi Indonesia saat ini. Termasuk, faktor-faktor yang memengaruhi kesejahteraan petani, kualitas kopi, serta upaya menuju keberlanjutan industri.



Aspek-Aspek Keberlanjutan dalam Industri Kopi


Berbicara tentang kopi di Indonesia tidak lepas dari fakta bahwa Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Luas lahan kopi di Indonesia juga merupakan terbesar kedua setelah Brasil.

 

Sayangnya, dari 1,8 juta petani kopi di Indonesia, 98% di antaranya adalah petani-petani ‘kecil’. Artinya, sebagian besar lahan kopi di Indonesia dikelola oleh petani berskala kecil. Selain itu, rata-rata dari satu hektar kebun kopi hanya menghasilkan 700 – 800 kg per tahun. Jumlah tersebut termasuk kecil. Bandingkan dengan Vietnam yang bisa menghasil 2 ton per tahun.


Tantangan lain yang dihadapi petani kopi di Indonesia, menurut Ade, adalah perubahan iklim yang ekstrem. Pada satu waktu akan menghadapi curah hujan yang tinggi, di waktu lain panas berkepanjangan. Lahan untuk ditumbuhi kopi juga berkurang. Misalnya, suhu udara di dataran tinggi makin meningkat sehingga kopi arabica, yang tumbuh di dataran tinggi, jadi tidak bisa tumbuh di habitatnya.


Dampak perubahan iklim ini menjadikan penurunan produksi kopi hingga 30%. Diprediksi menurut Ade, dunia akan kesulitan mendapatkan suplai kopi pada tahun 2050. “Inilah pentingnya sustainability atau industri kopi berkelanjutan, yaitu kopi yang dihasilkan memenuhi praktik-praktik pilar ekonomi, sosial, dan lingkungan,” terang Ade.


Dari sisi ekonomi, industri kopi berkelanjutan mencoba membuat petani mampu mengatur pembudidayaan kopinya dengan baik sehingga pendapatannya juga lebih baik. Pada aspek sosial, perkebunan kopi tidak boleh mempekerjakan anak berusia 15 tahun ke bawah. Sementara dari sisi kesetaraan, perempuan dapat terlibat dan mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk bertanam kopi. Serta, dari sisi lingkungan, bagaimana budidaya kopi tetap memerhatikan kelestarian lingkungan dan keamanan si petani dengan tidak menggunakan pupuk secara berlebihan.


“Di sini SCOPI hadir dengan mendorong peningkatan produksi kopi berkelanjutan dan kesejahteraan petani kopi. Kami juga memberikan pelatihan kepada penyuluh lapangan dan memastikan perusahaan-perusahaan kopi memiliki sertifikasi berkelanjutan,” jelas Ade.